Konsorsium Indonesiadln



Yüklə 122,94 Kb.
tarix29.03.2018
ölçüsü122,94 Kb.
#35479

Konsorsium IndonesiaDLN:
Konsorsium Jaringan Perpustakaan Digital Indonesia

Hanya Sebuah Wacana
For a Networked Information Society

Ismail Fahmi, ST < ismail@itb.ac.id >
Sekjen IndonesiaDLN 2001 - 2002
Ketua Knowledge Management Research Group ITB
Gedung Perpustakaan Pusat ITB, Jl. Ganesha 10 Bandung
Phone/Fax: 022-2500089


Public version



Dokumen ini adalah wacana untuk pembentukan konsorsium IndonesiaDLN. Model diambil dari berbagai contoh komunitas yang sudah terbukti sukses yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi di Indonesia. Masukan, komentar, perubahan, usulan, dan sebagainya sangat diharapkan. Catatan: Pembicaraan mengenai konsorsium ini baru relevan jika beberapa kondisi (bab 11) sudah terpenuhi.

1. Pendahuluan


Dokumen ini merupakan wacana yang diajukan kepada para Partner IndonesiaDLN yang saat ini sudah membangun perpustakaan digital di tempat masing-masing dan sudah bergabung ke jaringan IndonesiaDLN. Proposal ini diajukan oleh Sekjen IndonesiaDLN yang salah satu tugasnya adalah menyelenggarakan Pertemuan Tahunan Ketiga pada tahun 2002, dan megusulkan topik pembahasan yang paling relevan. Proposal ini sebatas wacana tentang kemungkinan untuk IndonesiaDLN melangkah lebih jauh di masa mendatang.

Dokumen ini menjelaskan latar belakang mengapa usulan dibentuknya Konsorsium IndonesiaDLN diajukan, mengapa konsorsium, fokus yang diambil, pengetahuan (content) yang dikelola, siapa yang diharapkan terlibat dan untuk siapa, rencana strategis, dan pendekatan teknis.


Dokumen ini mengundang komentar (Request for Comment) dari berbagai pihak yang memiliki ketertarikan pada pengelolaan pengetahuan di berbagai bidang dalam sebuah jaringan terintegrasi. 

1.1. Latar Belakang



Knowledge Asymmetry dan Development Asymmetry
"Sebelum manusia mampu mengembangkan Budidayanya, manusia atau bangsa tersebut belumlah Merdeka sepenuhnya," demikian Iskandar Alisjahbana mengartikan "Development  as Freedom" judul tulisan Amartya Sen peraih Nobel di bidang Ekonomi. Kutipan ini beliau sampaikan ketika berbicara soal Knowledge Asymmetry dan Development Asymmetry
Kedua asymmetry tersebut merupakan masalah besar bangsa Indonesia dan juga masalah besar dunia dalam era Knowledge Age sekarang. Jurang antara Si Kaya dan Si Miskin semakin besar, serta perbedaan Negara Maju dan Negara Berkembang semakin jauh. Penemuan baru, paten, copyright, trademark dan sebagainya menjadi salah satu bentuk penjajahan baru bagi Si Miskin dan Negara Berkembang. Sulit dan langkanya akses ke sumber pengetahuan menjadikan mereka semakin sulit mengembangkan Budidayanya. Akibatnya jurang ini semakin lama semakin sulit ditutup.
Permasalahan tersebut kiranya menjadi motivasi penting metamorfosis IndonesiaDLN saat ini, yang akan mendorong digalinya gagasan dan semangat baru demi tercapainya Knowledge Symmetry di dalam negeri dan di antara bangsa Indonesia dengan dunia Internasional. Knowledge Symmetry tersebut diharapkan akan mendorong Development Symmetry yang sebenarnya yaitu yang memerdekakan manusia Indonesia seutuhnya, manusia yang ber-Budidaya tinggi. 
Tanpa aksi pemberdayaan khusus, kiranya sulit tercapai symmetry tersebut. Oleh karena itu, kita di dalam IndonesiaDLN bekerjasama dengan komponen bangsa lainnya akan mengembangkan gagasan dan upaya-upaya untuk mendorong tercapainya dua level Knowledge Symmetry. Pertama Knowledge Symmetry di antara bangsa Indonesia dan kedua Knowledge Symmetry antara bangsa Indonesia dengan bangsa lain. 
Perlunya Metamorfosis IndonesiaDLN
Hingga pertemuan tahunan kedua IndonesiaDLN pada bulan Juni 2001 yang lalu, IndonesiaDLN masih disepakati sebagai sebuah forum yang terbuka, dan tidak ada bentuk organisasional yang lebih formal. Hal ini dapat dimaklumi, karena pada saat itu para peserta baru mencoba memahami apa itu IndonesiaDLN, dan belum ada contoh riil dari jaringan ini yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dan pemikiran untuk melangkah lebih jauh.
Saat ini (per November 2001), jumlah partner IndonesiaDLN sudah mencapai 25 institusi dari Aceh hingga Irian Jaya. Peta di bawah ini memperlihatkan distribusi lokasi partner tersebut.


Gambar: Distribusi lokasi partner IndonesiaDLN (per November 2001)
Beberapa permasalahan mulai muncul di lapangan baik dari level praktis, strategis, maupun kebijakan (policy). Dikhawatirkan, investasi yang sudah keluarkan untuk membangun sebuah digital library di sebuah institusi, akan percuma dan kurang memberi manfaat bagi komunitas, jika permasalahan ini tidak dipecahkan.
Di level praktis, permasalahan sering muncul seperti rusaknya database karena server tiba-tiba mati karena aliran listrik terputus, kurangnya kemampuan SDM untuk mengelola koleksi digital, masalah sinkronisasi yang gagal dilakukan, aturan klasifikasi, entri metadata, dan sebagainya.
Di level strategis yang tampak jelas adalah belum adanya mekanisme yang jelas dan baku bagaimana pengetahuan dari sumber aslinya seperti mahasiswa, dosen, peneliti, dan lain-lain itu sampai ke pengelola digital library. Sosialisasi sistem ini ke komunitas masing-masing juga kurang, sehingga  keberadaan digital library kurang diketahui. Bagaimana memanfaatkan informasi yang sudah dikandung oleh digital library untuk memberikan layanan yang menguntungkan baik kepada pengelola maupun pemakai, juga relatif belum ada. Hal ini berakibat semangat untuk mengelola digital library hanya tinggi pada awal saja. Karena tidak melihat adanya manfaat yang besar, akhirnya pengelola kurang serius menanganinya. Ini dapat dilihat dari jumlah record yang sudah dimasukkan ke dalam digital library dan dishare ke IndonesiaDLN, yang cenderung  menurun.
Di level kebijakan yang paling utama adalah rata-rata belum adanya dukungan penuh dari pimpinan institusi untuk mengembangkan digital library. Dukungan nyata perlu diberikan misal dalam sosialisasi dan pemberlakuan aturan agar seluruh pengetahuan dalam bentuk dokumen harus diserahkan ke pengelola  digital library, misalnya tugas akhir, tesis, disertasi, laporan penelitian, proceeding, diraktori keahlian, dan sebagainya. Pada umumnya, para pimpinan setuju dengan adanya digital library. Tetapi infrastruktur kebijakan untuk mendukungnya belum ada. Sebenarnya, pengetahuan ini akan lebih bermanfaat jika tersedia secara digital dan online, tetapi kesadaran dan dukungan untuk mewujudkannya masih kurang. Sehingga  terkesan para pustakawan bekerja dengan inisiativ sendiri untuk mewujudkannya. Padahal untuk mencapai sukses, perlu dukungan dari pimpinan institusi, jurusan, fakultas, hingga dosen dan mahasiswa.
Ini adalah sebagian kecil permasalahan yang sudah tampak di awal. Partnernya pun masih terbatas pada institusi pendidikan (sebagian besar). Permasalahan yang lebih besar akan muncul di masa mendatang jika hal  ini tidak diantisipasi, dimana nanti IndonesiaDLN akan menjadi Network of Networks. Selain itu, IndonesiaDLN juga  akan menjadi fasilitator bagi pengelolaan pengetahuan. Pengelolaan ini meliputi proses pengumpulan pengetahuan, pengorganisasian, penyajian, peneyebaran, pemberian layanan referensi kepada pengguna, dan sebagainya. Secara garis besar, ada delapan parameter aktifitas yang akan menjadi indikator keberhasilan IndonesiaDLN. Semua itu membutuhkan sebuah infrastruktur organisasi IndonesiaDLN yang lebih baik.

1.2. Perlunya Membangun Konsorsium IndonesiaDLN


Mengapa kita perlu membentuk IndonesiaDLN sebagai sebuah konsorsium dan bukan sebuah forum saja?
Yang ingin kita capai dengan adanya IndonesiaDLN bukan hanya terkumpulnya koleksi digital (abstrak atau full teks) di setiap institusi, dan menyebarkannya ke institusi lain di dalam jaringan. Ini hanya salah satu tujuan. Masih ada beberapa tujuan lain yang sangat penting, seperti memberi layanan informasi secara terbuka dan luas kepada para pemakai (mahasiswa, dosen, peneliti, karyawan, individu, institusi, perusahaan, dan sebagainya), mendorong penelitian di bidang digital library serta ilmu dan teknologi yang mendukungnya, mengadakan program-program untuk meningkatkan kemampuan dan pengalaman profesional di bidang digital library dan informasi, menumbuhkan kesadaran perlunya sharing pengetahuan, sehingga akan menumbuhkan Knowledge Symmetry di kalangan bangsa Indonesia. Hanya melalui manajemen layanan informasi yang baik serta komunitas yang memiliki kepemimpinan dan program yang jelas, digital library yang dibangun itu akan memberi manfaat yang besar kepada masyarakat luas. Seperti dalam definisi sebuah digital library, yang menjadi goal adalah akses universal kepada digital library resources dan information services, yang pada gilirannya akan membawa angin perubahan ke arah Knowledge Symmetry.
Hal yang sama akan kita jumpai jika melihat penerapan digital library di negara lain yang lebih maju, misalnya DLF (Digital Library Federation), WRLC (Washington Research  Library Consortium), dan sebagainya. Karena tidak ada satu sistem digital library pun yang dapat menyediakan semua informasi, maka mereka membentuk federasi, konsorsium, atau aliansi agar dapat saling memanfaatkan resource dan layanan yang dimiliki oleh masing-masing digital library. Untuk menjamin agar kerjasama tersebut langgeng, selalu ada sebuah bentuk organisasi seperti di atas, yang eksekutifnya bertanggung jawab untuk menjalankan program-program bersama. Di dalam komunitas ini, setiap anggota dapat saling berbagi ide, pengalaman, dan belajar.
IndonesiaDLN sebagai sebuah konsorsium, akan memiliki fungsi yang mirip dengan DLF, yaitu membantu institusi partner untuk melakukan transformasi di era teknologi informasi ini dengan memanfaatkan jaringan dan teknologi digital. Sedangkan fungsi pengembangan komunitasnya mirip dengan ASIST (American Society for Information Science and Technology). Misalnya, mengevaluasi dan mengembangkan tools digital library, riset di bidang digital library, sebagai katalis untuk membangun layanan informasi yang inovatif, dan membangun komunitas profesional untuk membangun digital library. Selain itu ada fungsi penting IndonesiaDLN - yang tidak ada pada DLF - yaitu sebagai gateway dan hub bagi informasi dan layanan yang disediakan oleh partner, serta sebagai fasilitator pengelolaan pengetahuan secara umum (termasuk membangun infrastruktur interaksi antar pengelola digital library, para ahli, dan pemakai).
Saat ini di Indonesia sudah ada IPI (Ikatan Pustakawan Indonesia), FKPPTI (Forum Komunikasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia), dan sebagainya. Namun, belum ada organisasi kerjasama di bidang digital library. IndonesiaDLN adalah yang pertama kali ada dan diharapkan akan lahir secara bottom-up sebagai sebuah korsorsium yang akan membantu transformasi institusi sumber informasi dengan memanfaatkan jaringan dan  teknologi digital. Dengan bekerja sama, diharapkan mereka dapat memperluas reputasi kolektif, investasi, kapasitas, dan layanan. Kerjasama aliansi dengan organisasi pengelolaan informasi yang telah ada tersebut akan dilakukan, agar dapat memberi layanan terbaik kepada pengguna secara bersama-sama.

2. Tujuan


IndonesiaDLN adalah sebuah konsorsium dari anggota individual dan institusional yang tertarik di bidang digital library, informasi, dan teknologi, yang berperan sebagai  penyedia informasi, penyedia layanan informasi, atau pengguna informasi dengan memanfaatkan jaringan dan teknologi digital yang bersifat kolaboratif. Dengan bekerja sama dalam konsorsium ini, mereka berharap dapat memanfaatkan reputasi kolektif, sumber daya informasi kolektif, layanan informasi kolektif, investasi, dan kemampuan R&D bersama untuk:

  • berbagi informasi dan evaluasi tentang perangkat digital library, metode, praktek, trend dan strategi;

  • memacu riset dan pengembangan digital library;

  • bertindak sebagai katalis bagi pengembangan organisasi dan layanan informasi yang  inovatif, dan sebagai agen pembelajaran bagi profesional digital library;

  • menarik investasi dalam riset dan aktifitas pengembangan digital library;

  • membangun komunitas praktis (community of practices) yang kondisif dan berhubungan dengan pengembangan digital library;

  • memberi penghargaan kepada institusi dan individu yang berjasa bagi pengembangan digital library dan bekerja keras bagi sharing pengetahuan;

  • dan berbagi sumber daya informasi dan menyelenggarakan jaringan layanan informasi bagi masyarakat luas.

Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan kesamaan pandangan terhadap definisi digital library sebagai berikut (draft):

"Sebuah digital library adalah sebuah organisasi yang menyediakan sumber daya termasuk staf khusus untuk memilih, menstrukturkan, memasarkan akses intelektual, menginterpretasikan, mendistribusikan, memberikan layanan, menjaga integritas, dan menjamin persistensi sepanjang waktu dari koleksi digital sehingga siap dan secara ekonomis mampu untuk diakses oleh komunitas dan jaringan IndonesiaDLN." 


3. Program


Area program Konsorsium IndonesiaDLN dititikberatkan pada penelitian dan pengembangan teknologi digital library, sharing dan layanan informasi, serta pada aktifitas-aktifitas yang mendorong penerapan digital library dan berbagi pengetahuan. Berikut ini adalah 7 area program dari konsorsium yang bisa berubah sesuai dengan kondisi:

3.1. Arsitektur, Tekologi, Sistem, dan Perangkat Digital Library


Di dalam program ini, anggota konsorsium mengarahkan penelitian dan pengembangannya pada:

  • desain dan pengembangan prototipe sistem digital library;

  • mendorong transfer teknologi, berbagi informasi dan pengalaman di antara anggota konsorsium serta dengan sektor bisnis dan industri (UKM maupun besar);

  • menyebarkan informasi tentang rencana teknis dan pencapaian oleh anggota konsorsium ke komunitas yang lebih luas.

3.2. Koleksi Digital


Konsorsium akan:

  • mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menyiapkan strategi dan praktek pembangunan koleksi digital yang dapat diterapkan di berbagai kondisi lingkungan organisasi anggotanya;

  • menyiapkan panduan yang diperlukan bagi pengelola koleksi lokal dan pengambil kebijakan;

  • mendorong dibangunnya koleksi digital baru di kalangan anggotanya yang bermanfaat bagi masyarakat luas dengan memanfaatkan teknologi komputer dan jaringan;

  • mengelola server gateway sebagai hub sharing koleksi digital bagi anggota konsorsium.

3.3. Penggunaan, Pengguna, Dukungan Pengguna, dan Layanan Pengguna


Bagaimana koleksi digital itu dimanfaatkan, sangat tergantung dari bagaimana informasi tersebut dibuat, diorganisasikan, dan disajikan. Untuk itu, konsorsium akan membantu anggotanya untuk:

  • berkomunikasi dengan pemakai secara lebih efektif untuk menyiapkan koleksi digital dan layanan yang lebih baik;

  • menyediakan data tentang pengguna serta perilakunya, yang bermanfaat untuk mengetahui perkembangan koleksi dan layanan digital library;

  • membangun layanan informasi bagi pengguna yang berkesinambungan secara bersama-sama dengan memanfaatkan tekonologi jaringan internet.

3.4. Preservasi Digital


Konsorsium memiliki komitment untuk mendukung pengelolaan berjangka panjang bagi koleksi informasi dan pengetahuan secara digital. Untuk itu, konsorsium akan:

  • mendorong inisiatif yang menghasilkan pengalaman praktis dalam hal preservasi digital;

  • mengadakan penelitian dan pengembangan yang menghasilkan strategi dan praktek yang tepat bagi preservasi koleksi film, video, audio, dan gambar;

  • membantu dan mendorong anggota yang memiliki koleksi langka dan berharga untuk melakukan preservasi secara digital;

  • membantu promosi  berbagai inisiatif preservasi digital untuk mendapatkan dukungan dana;

3.5. Standard dan Praktek


Konsorsium akan mencari dan berbagi informasi tentang standard dan praktek yang digunakan untuk menghasilkan, mengelola, dan menyebarkan sumber informasi digital. Konsorsium juga akan mengevaluasi berbagai pengalaman terbaik dan benchmark yang bertujuan untuk:

  • mencapai tingkat interoperabilitas dan pertukaran koleksi digital yang lebih tinggi;

  • memfasilitasi akses berjangka panjang bagi koleksi-koleksi tersebut.

3.6. Kolaborasi Nasional dan Internasional


Konsorsium juga akan mengupayakan kolaborasi dengan berbagai inisiatif digital library internasional maupun dengan berbagai sumber dan pengguna informasi lainnya secara nasional, untuk mempromosikan kekayaan bangsa Indonesia, meningkatkan kualitas dan kapasitas koleksi digital yang dapat disebarkan dan dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia, serta meningkatkan dan memperluas layanan yang dapat diberikan kepada pengguna. Untuk itu, konsorsium akan:

  • secara aktif merintis kerjasama aliansi dengan berbagai organisasi maupun institusi di dalam negeri untuk berbagi pengetahuan secara nasional;

  • bekerja sama dengan Open Archives Initiatives untuk sharing informasi global;

  • merintis kerjasama dengan Malaysia khususnya dimulai dengan PLN (Penang  Library Network) untuk membangun jaringan digital library bilateral Indonesia-Malaysia.

3.7. Pemberian Penghargaan


Salah satu program terpenting untuk mendorong pengembangan digital library dan berbagi pengetahuan adalah pemberian penghargaan kepada individu maupun institusi yang telah berhasil, memiliki dedikasi, kerja keras, kontribusi, atau capaian yang bermanfaat bagi banyak orang. Untuk itu, konsorsium akan:

  • mengevaluasi dan menentukan berbagai jenis penghargaan dibidang digital library (teknologi informasi) dan sharing informasi yang akan diberikan oleh konsorsium;

  • mengumpulkan nominasi dan mengadakan penilaian dan pemilihan secara adil dan transparan;

  • memberi penghargaan kepada mereka yang terpilih dan mendorong berbagai pihak untuk berkarya lebih baik dan lebih banyak.

4. Organisasi


Konsorsium IndonesiaDLN merupakan organisasi anggota. Ada empat jenis keanggotaan di dalam konsorsium ini yang akan didiskusikan, yaitu:

  • Partner

  • Aliansi

  • Individu

  • Institusi

Partner adalah institusi atau organisasi yang sedang atau telah membangun sistem digital library dan bergabung dalam jaringan IndonesiaDLN. Partner dapat berfungsi sebagai Data Provider dan/atau Service Provider. Memiliki hak bicara dan hak suara.
Aliansi adalah komunitas atau organisasi lain yang mengakomodasi inisiatif yang sama dengan IndonesiaDLN khususnya untuk mengelola dan berbagi pengetahuan. Memiliki hak bicara tanpa hak suara.
Individu adalah perorangan yang memiliki kepentingan, ketertarikan, atau perhatian terhadap inisiatif dan program yang dijalankan oleh Konsorsium IndonesiaDLN. Memiliki hak bicara dan hak suara.
Institusi adalah organisasi yang tidak membangun sistem digital library tetapi ingin terlibat dalam program konsorsium. Memiliki hak bicara dan hak suara.
Jenis keanggotaan ini akan dibahas dalam pertemuan dan tidak menutup kemungkinan adanya jenis keanggotaan lain. Beberapa isu penting yang harus dibahas adalah apa hak dan kewajiban yang akan diberlakukan terhadap anggota konsorsium agar program bersama ini bisa berjalan dengan baik dan berjangka panjang.
Sebagai sebuah konsorsium, IndonesiaDLN bermaksud untuk hanya memiliki organisasi pusat yang terbatas (Board Committees). Berbagai SIG (Special Interest Group) akan dibentuk berdasarkan kebutuhan dan minat tertentu guna memberi kesempatan kepada anggota untuk bertukar pengalaman dan gagasan, menambah pengetahuan dan informasi terkini, serta meningkatkan kemampuan profesional. 
Konsorsium IndonesiaDLN memiliki sebuah struktur organisasi yang didasari oleh semangat untuk membangun komunitas yang progresif, kolaboratif, serta mendorong inspirasi untuk berkarya dan berbagi ilmu pengetahuan, seperti tampak pada gambar di bawah ini:




Gambar: Draft bagan struktur organisasi Konsorsium IndonesiaDLN


Di dalam struktur konsorsium IndonesiaDLN, terdapat enam komponen penting organisasi yaitu:

  1. Networks (Jaringan)

  2. Special Interest Group (SIG)

  3. Annual Meeting (Pertemuan Tahunan)

  4. Board of Directors, terdiri dari:

    • Presiden

    • Network Directors (Direktur-direktur Jaringan)

    • SIG Directors (Direktur-direktur SIG)

  5. Headquarters (Sekretariat Pusat):

    • Society Committees  

    • Publishing Division (Divisi Penerbitan)

    • Network Administration Division (Divisi Pengelolaan Jaringan)

    • Information Management Division (Divisi Pengelolaan Informasi)

4.1. Networks


IndonesiaDLN adalah network-of-networks. Di dalamnya terdapat beberapa Network yang memiliki ciri khas tersendiri dari sisi kandungan informasi yang dikelola dan komunitasnya. Misalnya: 

  • Electronic Theses and Dissertation (ETD), 

  • Digital Library for Children, 

  • Digital Library for High School, 

  • Agriculture Network, 

  • Heritage Network, 

  • Human Rights Information Network, 

  • Bibliographic Network, 

  • dan seterusnya. 

Partner, yaitu institusi atau individu yang berpartisipasi dalam sharing pengetahuan baik sebagai Data Provider atau Service Provider, dalam kenyataan di lapangan akan bergabung dalam sebuah Network atau lebih yang ada di IndonesiaDLN. Misal sebuah perguruan tinggi bergabung dalam Network ETD untuk berbagi sumber daya pengetahuan dalam bentuk Tesis dan Disertasi. 
Pihak-pihak yang melakukan sharing informasi dalam sebuah network tersebut, dapat membentuk suatu komunitas dengan tujuan dan minat tertentu. Misalnya dalam network Digital Library for Children, mereka biasanya sama-sama tertarik dalam pengembangan anak, peningkatan kualitas pendidikan anak, dan sebagainya. Di dalam komunitas besar IndonesiaDLN, setiap komunitas ini mendapat perhatian penting karena memerlukan penanganan tersendiri oleh orang-orang yang berkompeten di area kompetensi komunitas masing-masing.
Setiap Network di dalam IndonesiaDLN setidaknya memiliki komponen sebagai berikut:

  • Content: kandungan informasi yang spesifik (misal: ETD, database bibliografi, karya anak-anak, heritage, agriculture, dsb). Standard metadata untuk informasi yang dikelola juga menjadi hal yang penting untuk dibangun;

  • Community: partner-partner yang memiliki kesamaan tujuan dan minat dalam berbagi informasi (misal: universitas-universitas, SMU/SMK, Playgroup/TK, Pariwisata Daerah, LBH/LSM, Koperasi/Kelompok Tani/Pusat Informasi Pertanian, dll);

  • Connectivity: sebuah server Hub Sub-Network yang menghubungkan content dari seluruh partner;

  • Cooperation: setiap Network dipimpin oleh seorang Network Director yang dibantu oleh seorang wakil direktur dan beberapa staff yang bertugas mengelola jaringan dan kerjasama antar partner di dalam jaringan tersebut.

Pembentukan Network ini tergantung dari kebutuhan dan usulan anggota. Berbagai pertimbangan harus diajukan dan beberapa hal seperti kesiapan teknologi, standard metadata, interoperabilitas dengan Network yang sudah ada, komunitas, dan sebagainya harus dipersiapkan sebelum sebuah Network diluncurkan.
Sebuah Network dikelola oleh:

  • Direktur

  • Sekretaris/Bendahara

  • Ketua Program

  • Newsletter Editor

  • Chief of Knowledge Officers

  • Information Service Manager

  • System Administrator (network, server, mailing list, and database administrator)

  • Metadata Standard Committee

4.2. Special Interest Groups


Special Interest Groups (SIG) ditunjuk oleh Board of Directors untuk memberi anggota yang memiliki kesamaan profesi dan keahlian berupa kesempatan untuk bertukar gagasan, pengalaman, dan selalu memberikan informasi paling baru dari perkembangan ilmu dan teknologi di bidangnya. Aktifitas dari SIG ini direncanakan oleh anggota SIG bersama staf yang dipilih. 
Beragamnya SIG dan bidang yang dibahasnya memperlihatkan luasnya bidang ketertarikan anggota IndonesiaDLN. SIG ini adalah perwujudan dari Community of Practices (CoP) yang akan dijadikan sebagai environment yang kondusif untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan anggota. 
Hanya anggota konsorsium yang dapat menjadi anggota SIG. Dan setiap anggota konsorsium dapat berpartisipasi di dalam lebih dari satu SIG. Dengan berpartisipasi dalam SIG, anggota dapat berkontribusi bagi perkembangan digital library dan bidang-bidang yang terkait secara lebih luas.
Contoh aktifitas yang biasanya dilakukan oleh SIG adalah:

  • menyelenggarakan presentasi, workshop, dan tutorial bagi anggota SIG khususnya dan anggota konsorsium pada umumnya setiap tahun bersamaan dengan Pertemuan Tahunan. Forum seperti ini merupakan salah  satu bentuk Community of Practices yang harus dipupuk;

  • mengadakan contest penulisan paper dan memberi penghargaan kepada pemenang sesuai dengan bidang SIG;

  • mengajukan nominasi dan memilih pemenang dari kalangan mahasiswa atau peneliti dari anggota konsorsium yang sedang atau telah mengerjakan penelitian terbaik di bidang SIG;

  • fund rising untuk memberi penghargaan kepada pemenang topik penelitian terbaik;

  • news letter;

  • diskusi di mailing list, dan sebagainya.

Aktifitas tersebut dapat dilakukan di tingkat konsorsium. 

Contoh SIG yang dapat dibangun di dalam IndonesiaDLN adalah:



  • Digital Library Technology

  • Digital Library and Children

  • Digital Library and Human Rights

  • Digital Library and Agriculture

  • Digital Library and Heritage

  • Digital Library and Medical

  • Human-Computer Interaction

  • Information Architecture

  • Information Generation and Publishing

  • Information Use

  • Information Policy

  • Information Retrieval

  • Information Metric

  • Knowledge Management

  • Knowledge Visualization

  • Library Automation

  • dsb..

Setiap SIG dikelola oleh:

  • Direktur

  • Sekretaris

  • Ketua Program

  • Member Record Holder

  • Webmaster

  • Mailing list administrator

4.4. Annual Meeting


Secara periodik, setiap tahun akan diadakan pertemuan (Annual meeting) yang dapat dihadiri oleh seluruh anggota dan perwakilan institusi anggota konsorsium. Pertemuan ini sangat penting untuk:

  • komunikasi dan kolaborasi;

  • pertukaran ide, pengalaman, hasil riset, kisah sukses, dan rencana;

  • sebagai market place yang menguntungkan bagi semua pihak;

  • meningkatkan kemampuan dan keahlian profesional;

  • memecahkan permasalahan bersama-sama;

  • memberi penghargaan kepada mereka yang memiliki kontribusi besar dalam karyanya serta mendorong anggota untuk berkarya lebih banyak lagi;

  • mengevaluasi program kerja dan kebijakan konsorsium dan membuat rumusan untuk masa selanjutnya;

  • pengembangan komunitas dan organisasi;

  • pengajuan nominasi pemimpin-pemimpin dan memilih pemimpin-pemimpin konsorsium untuk tahun berikutnya;

  • serta menjaga kelangsungan visi bersama untuk berbagi ilmu pengetahuan.

4.5. Board of Directors


Adanya Board of Directors ini untuk menjamin agar kelangsungan konsorsium tidak tergantung pada satu orang seperti pada model piramida. Dengan adanya beberapa orang direktur dalam jajaran kepemimpinan organisasi, kita akan mendapatkan manfaat antara lain:

  • mendukung dan mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin baru yang  lebih banyak dan lebih baik;

  • menjamin regenerasi kepemimpinan komunitas;

  • semakin banyak program yang dapat dijalankan dengan baik, karena setiap direktur (pemimpin) dituntut untuk menghasilkan dan melaksanakan program yang bermanfaat di bidang masing-masing.

Duduk di dalam Board of Directors ini antara lain:

  • Presiden

  • Network Directors

  • SIG Director

Dengan dipimpin oleh Presiden, Board of Directors memberi laporan dan pertanggung jawaban kepada anggota secara langsung pada Pertemuan Tahunan konsorsium.

4.5.1. Presiden


Presiden (a.k.a Direktur Utama) memimpin konsorsium dengan tugas: 

  • menentukan tujuan, sasaran, dan arah konsorsium;

  • mengelola aktifitas dan program konsorsium;

  • mengelola keuangan konsorsium;

  • sebagai katalis dalam sharing informasi diantara anggota Board of Directors dan anggota konsorsium;

  • mengkomunikasikan konsorsium beserta aktifitasnya kepada komunitas lain yang lebih luas;

  • dan membangun kerjasama aliansi dengan pihak luar.

Dalam melaksanakan pekerjaannya, presiden dibantu oleh staf sekretariat pusat dan dibantu oleh beberapa panitia dan divisi. 

4.5.2. Network Directors (Direktur-direktur Jaringan)


Setiap Network dipimpin oleh seorang Network Director, yang bertugas:

  • menentukan arah, sasaran, dan strategi Network dalam mengembangkan sharing informasi;

  • menyusun program-program bagi Partner anggota Network untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitasnya dalam menyediakan informasi dan layanan;

  • membangun kolaborasi dan komunikasi antar Partner dalam Network sehingga terbentuk komunitas praktis yang sangat membantu tugas Partner;

  • memonitor perkembangan sharing informasi dalam Network dan pemanfaatannya oleh pengguna;

  • menyediakan bantuan teknis maupun strategis kepada Partner dalam merancang dan membangun sistem digital library, meningkatkan kemampuan SDM, mensosialisasikan program kepada institusinya, pendekatan ke pengambil kebijakan, pengelolaan digital library, dan penyediaan layanan kepada pengguna;

  • menjaga interoperabilitas pertukaran informasi antar Patner;

  • membangun dan mengevaluasi standard metadata yang dipergunakan dalam pertukaran informasi dalam Network;

  • mengkomunikasikan program dan kemajuan yang dicapai Network baik kepada Network lain di dalam konsorsium maupun kepada pihak luar yang lebih luas.

Network Director ini memegang peranan yang sangat penting seperti halnya Presiden, karena yang paling bertanggung jawab atas jalannya program-program dan hidupnya komunitas dalam Network yang dipimpinnya. Untuk itu, Network Director dibantu oleh:

  • Sekretaris/Bendahara

  • Ketua Program

  • Newsletter Editor

  • Chief of Knowledge Officers

  • Information Service Manager

  • System Administrator (network, server, mailing list, and database administrator)

  • Metadata Standard Specialist

Network Director dipilih dari nominasi yang diajukan oleh Partner-partner anggota Network yang dilaksanakan setiap tahun bersamaan dengan Pertemuan Tahunan. Mengingat pentingnya posisi Network dalam konsorsium (ibarat anak-anak konsorsium), maka setiap Network Director akan memiliki satu kursi dalam Board of Directors konsorsium. Dengan demikian, jumlah Network Director yang duduk di dalam Board of Directors adalah sebanyak jumlah Network yang ada di dalam IndonesiaDLN.

4.5.3. SIG Directors (Direktur-direktur SIG)


SIG Cabinet Director memimpin SIG Cabinet, yaitu wadah berkumpulnya seluruh ketua SIG dalam mengkomunikasikan rencana dan program masing-masing SIG. SIG Cabinet Director dipilih dari nominasi yang diajukan oleh ketua-ketua SIG.
Tugas SIG Cabinet Director ini adalah:

  • mengelola urusan SIG Cabinet;

  • membangun komunikasi dan kolaborasi antar SIG;

  • memimpin SIG Cabinet khususnya dalam menyusun program presentasi, seminar, workshop, atau tutorial bagi anggota yang diadakan setiap tahun bersamaan dengan Pertemuan Tahunan konsorsium;

  • mendorong dan membantu setiap SIG dalam menyusun program kegiatan SIG bagi anggota;

  • mendorong pembentukan Community of Practices di kalangan anggota;

  • mengevaluasi, mengajukan nominasi, dan memberi  penghargaan kepada orang-orang yang dinilai memberi kontribusi penting bagi perkembangan digital library khususnya dan pembangunan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan di Indonesia umumnya;

  • mengkomunikasikan program SIG secara keseluruhan kepada Board of Directors dan kepada seluruh anggota dalam Pertemuan Tahunan;

  • mencari terobosan yang kreatif dalam membangun kerjasama dengan pihak luar dalam rangka meningkatkan keahlian profesional anggota, serta memberi informasi terbaru tentang ilmu dan teknologi yang mendukung digital library dan sharing informasi.

Dalam menjalankan tugas-tugas di atas, SIG Cabinet Director dibantu oleh sebuah SIG Cabinet Steering CommitteeSIG Cabinet Director mendapatkan sebuah kursi di dalam Board of Directors yang mewakili aspirasi seluruh SIG.

4.6. Headquarters


Headquarters atau sekretariat pusat, merupakan kantor pusat pengelolaan program dan akfitas konsorsium, serta merupakan clearinghouse bagi anggota dan umum untuk mendapatkan informasi tentang konsorsium dan pengembangan digital library di Indonesia. Headquarters ini fungsinya adalah untuk membantu Presiden dalam mengelola konsorsium dan komunitas IndonesiaDLN. 

Staff konsorsium IndonesiaDLN yang menjalankan tugas administratif konsorsium sehari-hari berada di headquarter ini. Mereka adalah:



  • Executive Director

  • Director of Finance & Administration

  • Director of Membership & Meeting

  • Membership Service Manager

  • Office Assistant

Cukup dengan staff yang simple dan sedikit inilah, administrasi konsorsium IndonesiaDLN dapat berjalan.

Ada empat fungsi penting dari Headquarters ini yaitu:



  • eksekutif;

  • pengembangan komunitas;

  • publikasi, dan

  • layanan informasi.

Presiden bersama staff konsorsium dalam menjalankan fungsi tersebut dibantu oleh beberapa panitia dan divisi berikut ini:

  • Society Committees: membantu mengembangkan komunitas IndonesiaDLN;

  • Publishing Division: membantu melakukan sosialisasi, disseminasi, dan publikasi program, antifitas, dan hasil yang telah dicapai komunitas kepada anggota dan masyarakat luas;

  • Network Administration Division: membantu mengelola erver-server Hub, pertukaran informasi antar Partner

  • Information Management Division: membantu mengelola content, pengorganisasian content, dan layanan informasi kepada pengguna.

4.6.1. Society Committees  


Society Standing Committees adalah panitia-panitia yang ditunjuk oleh Presiden untuk membantu pengembangan komunitas IndonesiaDLN dan masyarakat digital library di  Indonesia, dan memberi masukan kepada Board of Directors melalui Presiden sesuai bidangnya. Di dalam Society Standing Committees ini, terdapat beberapa kepanitiaan antara lain:

  • Award

  • Education

  • Leadership Development

  • Membership

  • Nomination

  • Standards

  • Interoperability

  • Information Management 
4.6.1.1. Award Committee

Tugas Award Committee adalah membantu Presiden dan Board of Directors dalam:

  • menyusun, merevisi, dan mengevaluasi kebijakan dalam mensponsori pemberian penghargaan;

  • menyusun, merevisi, dan mengevaluasi petunjuk pelaksanaan dan prosedur pemberian penghargaan;

  • mengidentifikasi dan mengajukan nominasi anggota konsorsium kepada Nomination Committee untuk mendapat penghargaan;

  • mengupayakan dukungan sponsor dari berbagai pihak untuk pemberian penghargaan.

Panitia ini terdiri dari beberapa orang yang berkompeten dan dipimpin oleh seorang ketua.
4.6.1.2. Education Committee

Tugas Education Committee adalah membantu Presiden dan Board of Directors dalam:

  • menentukan jenis pembelajaran yang dibutuhkan oleh para anggota konsorsium;

  • menjamin agar pembelajaran yang diprogramkan dapat membantu jenjang karir, untuk umum maupun bisnis, dan untuk riset maupun aplikasi;

  • bertanggung jawab dalam memilih pemenang beberapa penghargaan, misalnya:

    • Paper Penelitian Mahasiswa Terbaik

    • Beasiswa Proposal Riset Tugas Akhir, Tesis, dan Disertasi

    • Tugas Akhir, Tesis, dan Disertasi Terbaik

    • dsb

Panitia ini terdiri dari beberapa orang yang berkompeten dan dipimpin oleh seorang ketua.
4.6.1.3. Leadership Development Committee

Tugas Leadership Development Committee adalah membantu Presiden dan Board of Directors dalam:

  • mengidentifikasi dan merekrut individu yang memiliki potensi untuk menjadi pemimpin yang efektif untuk ditempatkan pada beberapa posisi kepemimpinan di konsorsium;

  • mendesain, membangun, dan menyelenggarakan training dan beberapa aktifitas pengembangan diri untuk meningkatkan kemampuan para pemimpin konsorsium saat ini;

  • menilai faktor-faktor yang mendukung atau menghambat komitmen dan motivasi para pemimpin lalu mengajukan saran untuk meningkatkan efektifitas dan performance para volunteer;

  • mengidentifikasi dan membangun jenjang pengembangan para volunteer pemimpin sehingga mereka dapat memanfaatkan posisinya untuk pengembangan diri dan karir;

  • memberi rekomendasi kepada Nomination Committee, Presiden, dan bagian pemberi nominasi dalam setiap SIG  tentang adanya individu yang berkualitas yang harus dipertimbangkan untuk beberapa posisi kepemimpinan konsorsium;

  • mengevaluasi efektifitas dari berbagai aktifitas pengembangan kepemimpinan konsorsium dan memberi laporan kepada Presiden.

Panitia ini terdiri dari beberapa orang yang berkompeten dan dipimpin oleh seorang ketua.
4.6.1.4. Membership Committee

Misi utama dari Membership Committee adalah menarik dan mempertahankan anggota dengan menjamin bahwa konsorsium akan memuaskan kebutuhan dan harapan mereka. 

Tugas Membership Committee adalah membantu Presiden dan Board of Directors dalam:



  • mengidentifikasi dan menentukan kebutuhan dan harapan para anggota;

  • merencanakan, mengembangkan, dan mengevaluasi metode pemuasan kebutuhan dan harapan anggota dan merekomendasikan program tersebut kepada Board of Directors dan headquarters untuk mendapat persetujuan dengan mempertimbangkan kendala sumberdaya yang ada;

  • mengevaluasi efektifitas kegiatan yang diterapkan untuk mencapai tujuan tersebut; termasuk penilaian kualitatif dan kuantitatif atas layanan atau program apa yang diminati oleh anggota atau potensial anggota.

Panitia ini terdiri dari beberapa orang yang berkompeten dan dipimpin oleh seorang ketua.
4.6.1.5. Nomination Committee

Nomination Committee harus terdiri dari 5 orang yaitu Past President yang berperan sebagai ketua panitia dan empat orang anggota lagi yang bukan anggota Board of Directors. Dua orang anggota diajukan masing-masing oleh SIG Cabinet yang mengadakan petemuan setiap tahun bersamaan dengan Pertemuan Tahunan konsorsium. Dua orang anggota lagi dipilih langsung oleh ketua panitia.
Jika Past President tidak bisa menjadi ketua, maka Presiden harus memilih diantara anggota yang pernah duduk dalam Board of Directors paling lama untuk menjadi ketua. 

Tugas Nomination Committee adalah membantu Presiden dan Board of Directors dalam:



  • memilih pemenang dari berbagai penghargaan yang akan diberikan, berdasarkan masukan dari SIG dan kepanitiaan lain.
4.6.1.6. Standards Committee

Tugas Standards Committee adalah membantu Presiden dan Board of Directors dalam:

  • secara aktif mengidentifikasi standard baru yang potensial yang diperlukan oleh komunitas digital library Indonesia;

  • mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk membangun standard tersebut bekerjasama dengan Network dan organisasi afiliasi lain yang berkepentingan;

  • memberi masukan kepada Interoperability Committee yang akan melakukan ujicoba interoperabilitas implementasi metadata dan sistem digital library;

  • mengambil keputusan atau komentar berdasarkan hasil pembicaraan dalam panitia dan melaporkan kepada Board of Directors.

Panitia ini terdiri dari beberapa orang yang berkompeten, perwakilan dari setiap Network, perwakilan dari pengembang sistem, organisasi afiliasi yang berkepentingan, dan dipimpin oleh seorang ketua.
4.6.1.7. Interoperability Committee

Interoperability Committee adalah panitia yang ditunjuk Presiden untuk menangani masalah interoperbilitas antar sistem digital library yang digunakan dalam jaringan IndonesiaDLN. Nantinya tidak hanya satu sistem software digital library yang akan digunakan, tetapi apapun sistemnya bisa digunakan oleh partner, dengan syarat sudah memenuhi standard metadata dan lulus ujicoba interoperabilitas.
Panitia ini terdiri dari seorang ketua, perwakilan dari setiap Network, dan perwakilan dari institusi pengembang sistem (system developer).
Tugas Interoperability Committee ini adalah membantu Presiden dan Board of Directors dalam:

  • mendesain dan menyusun prosedur pengujian interoperabilitas sistem;

  • mengadakan pengujian interoperabilitas atas sistem-sistem digital library yang didaftarkan oleh pengembang untuk digunakan dalam jaringan IndonesiaDLN;

  • memberi laporan dan komentar kepada pengembang sistem dan Board of Directors tentang hasil pengujian serta rekomendasi yang diperlukan untuk memperbaiki sistem;

  • memberi laporan dan komentar atas standard metadata yang tengah diujicoba kepada Standards Committee serta memberi rekomendasi yang diperlukan untuk memperbaiki standard metadata tersebut;

  • mengevaluasi prosedur pengujian interoperabilitas yang tengah digunakan serta melakukan perbaikan terhadap prosedur tersebut;

  • mengajukan rekomendasi pemberian Sertifikat Lulus Uji Interoperabilitas IndonesiaDLN kepada Board of Directors untuk mendapat pengesahan.
4.6.1.8. Information Management Committee

Karena salah satu layanan yang diberikan oleh konsorsium kepada anggota dan masyarakat luas adalah layanan informasi, maka diperlukan sebuah Information Management Committee yang akan membantu Board of Directors dalam pengelolaan informasi dan menjamin kualitas dan kepuasan pemberian layanan informasi.

Tugas Information Management Committee adalah membantu Presiden dan Board of Directors dalam:



  • mengidentifikasi dan menentukan kebutuhan informasi secara umum;

  • mendesain arsitektur dan klasifikasi informasi untuk digunakan oleh Information Management Division dan seluruh partner;

  • merencanakan, mengembangkan, dan mengevaluasi metode layanan informasi berbasis jaringan dan mengajukan masukan kepada Board of Directors untuk mendapat persetujuan;

  • mendesain, membangun, dan menyelenggarakan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan penyedia informasi dan layanan informasi;

  • bekerjasama dengan Information Management Division dalam mengelola informasi dan membangun jasa layanan informasi bersama;

  • mengevaluasi efektifitas pengelolaan informasi dan layanan informasi yang diterapkan baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Panitia ini terdiri dari beberapa orang yang berkompeten dan dipimpin oleh seorang ketua.

4.6.2. Publishing Division (Divisi Penerbitan)


Salah satu produk dan layanan penting yang diberikan oleh konsorsium adalah publikasi. Berbagai produk publikasi yang dapat dihasilkan antara lain:

  • Jurnal IndonesiaDLN

  • Buletin IndonesiaDLN

  • Annual Review of Digital Library in Indonesia

  • Buku-buku tentang Digital Library dan Teknologi Informasi (bekerja sama dengan penerbit nasional)

  • Tutorial

Dalam setiap publikasi tersebut, terdapat beberapa orang yang duduk dalam Editorial Staffs. Naskah yang dihasilkan dapat diterbitkan sendiri atau bekerja sama dengan penerbit nasional seperti Gramedia, Elexmedia, Mizan, dsb khususnya untuk jenis buku. Buku-buku tutorial dan materi pelatihan juga diterbitkan oleh divisi ini.

4.6.3. Network Administration Division (Divisi Pengelolaan Jaringan)


Salah satu fungsi konsorsium adalah untuk mengelola jaringan digital library di Indonesia. Dalam desain network-of-networks terdapat beberapa hub server di pusat yang berfungsi sebagai headquarters pertukaran informasi (metadata). Untuk itu, diperlukan sebuah Network Administration Division yang akan mengelola server-server hub dan interkoneksinya ke server partner sehari-hari.
Network Administration Division ini ditunjuk oleh Presiden untuk tugas-tugas berikut:

  • mendesain dan menyusun prosedur pengelolaan rutin server hub;

  • mendesain dan menyusun prosedur bagi partner baru mulai dari pendaftaran hingga pengoperasian pertukaran informasi antara server partner dengan server hub;

  • menangani registrasi server-server partner baru;

  • mengelola server-server hub;

  • sebagai helpdesk pertukaran informasi antar server digital library di IndonesiaDLN;

  • memonitor arus lalu lintas informasi dalam jaringan IndonesiaDLN;

  • memberi laporan kondisi server-server dan informasi dalam jaringan IndonesiaDLN;

  • memberi masukan kepada Nomination Committee tentang individu dan partner yang paling aktif dan berkontribusi dalam berbagi informasi untuk mendapat penghargaan;

  • mengadakan riset dan ujicoba untuk mengintegrasikan jaringan IndonesiaDLN ke jaringan digital library internasional khususnya yang berada dalam lingkungan Open Archives Initiatives.

Divisi ini terdiri dari:

  • Manager

  • Bagian Administrasi

  • Bagian Server Administrator

  • Bagian Helpdesk

4.6.4. Information Management Division (Divisi Pengelolaan Informasi)


Layanan informasi merupakan layanan yang paling penting, karena langsung berhubungan komunitas dan pengguna yang menghasilkan dan membutuhkan informasi. Adanya IndonesiaDLN adalah untuk tujuan ini, yaitu memberi layanan informasi kepada bangsa Indonesia sehigga meningkat information literacy-nya. 

Untuk mengelola layanan ini sehari-hari, Presiden menunjuk Information Services Division. Tugas divisi ini adalah:



  • bekerja sama dengan Information Management Committee mendesain guidelines arsitektur dan klasifikasi informasi yang akan digunakan oleh partner;

  • secara aktif bekerjasama dengan Knowledge Officer partner dalam mengumpulkan informasi dari anggota komunitas;

  • memonitor pengelolaan informasi yang dilakukan oleh para Knowledge Officer partner;

  • bekerja sama dengan Information Management Committee mendesain guidelines layanan informasi yang akan digunakan bersama-sama oleh partner dan pusat, termasuk standard biaya dan kualitas layanan;

  • membantu partner dalam menyediakan layanan informasi bersama;

  • membuka layanan informasi langsung kepada pengguna;

  • menjadi headquarter dan clearinghouse bagi layanan informasi;

Divisi ini terdiri dari:

  • Manager

  • Bagian Finance & Administration

  • Member Records Holder

  • Knowledge Officers

  • Bagian Information Services



5. Komunikasi


Komunikasi yang efektif merupakan hal yang sangat penting bagi IndonesiaDLN, khususnya dalam:

  • menjamin agar program dan aktifitasnya sesuai dengan minat dan kebutuhan anggota;

  • membantu kolaborasi yang efektif;

  • menginformasikan strategi, teknologi, dan mekanisme bisnis konsorsium kepada anggota dan komunitas yang lebih luas;

  • mengkomunikasikan aktifitasnya kepada komunitas digital library yang lebih luas yang berperan sebagai katalis dan agen pembelajaran profesional.

Untuk itu, infrastruktur komunikasi IndonesiaDLN yang perlu dibangun antara lain:

  • jaringan group diskusi elektronik (mailing list) di setiap Chapter dan SIG;

  • bulletin bulanan yang melaporkan kemajuan konsorsium, aktifitas, program, dan sebagainya kepada anggota serta anggota dapat menginformasikan kemajuannya kepada anggota lain;

  • web site Konsorsium IndonesiaDLN yang selalu uptodate dan dapat menjadi rujukan bagi anggota dan komunitas yang lebih luas untuk mengetahui kebijakan, strategi, program, aktifitas, paper, standard, anggota, guidelines, dokumentasi teknis, laporan, dan sebagainya. 

  • web site server-server hub dari Network-network dalam jaringan IndonesiaDLN yang dapat diakses oleh publik berisi informasi dan pengetahuan yang dikumpulkan dari seluruh komunitas partner;

  • Pertemuan Tahunan Anggota dan Proceeding;

  • Jurnal dan Annual Review.

6. Layanan


Untuk membantu para anggota, partner, dan aliansi, maka konsorsium menyediakan layanan berikut:

  • kepemimpinan dan dukungan bagai riset-riset baru, pembuatan standard, uji interoperabilitas, pembangunan digital library, penyediaan layanan informasi, dan penghargaan;

  • jaringan layanan informasi bagi anggota dan umum dengan memanfaatkan seluruh sumber daya informasi yang dimiliki oleh seluruh partner;

  • pertemuan setiap tahun sekali sebagai forum untuk mengarahkan konsorsium, memberi laporan program, berbagi pengalaman dan gagasan;

  • pertemuan chapter yang diatur sendiri oleh masing-masing chapter;

  • server mailing list untuk seluruh aktifitas diskusi elektronik dalam IndonesiaDLN;

  • situs web resmi konsorsium IndonesiaDLN ini;

  • server-server hub Network yang online berisi koleksi informasi dan pengetahuan dari setiap partner dan Network;

  • buletin bulanan baik yang dicetak maupun elektronik di web yang melaporkan kemajuan program konsorsium, perkembangan digital library partner, layanan partner, koleksi, dan utilitas informasi;

  • publikasi buku, tutorial, dan review tahunan tentang digital library di Indonesia;

  • penghargaan dan beasiswa penelitian bagi anggota konsorsium yang terbaik menurut nominasinya. 

7. Pembiayaan Program


Untuk menjalankan program-program konsorsium ini, mutlak diperlukan rancangan pembiayaan. Dari mana sumber-sumber pembiayaan potensial diharapkan bisa diperoleh, dan untuk pos-pos pembiayaan apa saja dana tersebut dikeluarkan.

7.1. Pos-pos Pembiayaan


Pos-pos pembiayaan yang perlu didefinisikan meliputi:

  • biaya rutin bulanan

  • biaya rutin tahunan

  • biaya insidental

  • biaya investasi

  • biaya operasional dan maintenance

  • biaya tak terduga

7.2. Sumber-sumber Dana Potensial


Sumber-sumber dana yang potensial dan perlu dikaji meliputi:

  • iuran tahunan partner

  • iuran tahunan anggota

  • pemasukan dari layanan informasi

  • grant dari pemerintah dan internasional

  • sponsor pemberian penghargaan dan beasiswa

  • sponsor pertemuan tahunan

  • dsb

8. Partner IndonesiaDLN


Partner adalah individu atau institusi yang telah mengembangkan digital library dan telah sukses dalam melakukan pertukaran informasi dengan server hub, sehingga listed dalam web www.IndonesiaDLN.org. Saat ini Partner IndonesiaDLN jumlahnya sekitar 29 buah.
Ada pun, institusi yang telah mendaftarkan diri sebagai partner namun belum sukses dalam melakukan pertukaran informasi terdapat lebih dari 80 buah.

9. Networks


Sebagai network-of-networks, IndonesiaDLN direncanakan akan memiliki Network-network. Network yang saat ini adalah adalah GDL-Network, yaitu Network yang menggunakan software GDL sebagai aplikasinya dan berisi berbagai macam content. 
Untuk masa mendatang, GDL-Network ini akan dibenahi dan diubah menjadi Network ETD (Electronic Theses and Dissertation). Partner tidak harus menggunakan software GDL namun contentnya dibatasi hanya untuk Tugas Akhir, Tesis, dan Disertasi saja.

Beberapa network baru yang kini sedang direncanakan untuk dibangun, berdasarkan kekhasan isi dan komunitasnya adalah: 



  • Journal and Grey Literature Network

  • Agriculture Network

  • Heritage Network

  • Digital Library for Children

  • Human Rights Information Network

  • Bibliographic Network

10. Aliansi


Konsorsium IndonesiaDLN akan menjalin kerjasama aliansi dengan institusi atau program digital library lain. Tujuan aliansi ini adalah untuk memperluas riset, jaringan, koleksi, dan layanan yang dapat disumbangkan kepada bangsa Indonesia.

Aliansi dengan organisasi nasional antara lain:



  • Warintek (Warung Informasi dan Telekomunikasi)

  • PDII LIPI

  • IPI

  • FKPPTI

  • AWARI (Asosiasi Warnet Indonesia)

  • JPPN (Jaringan Penelitian Pertanian Nasional)

  • IMPI (Inisiatif Manajemen Pengetahuan Indonesia)

  • dsb...

Aliansi dengan organisasi internasional antara lain:

  • Open Archives Initiatives

  • NDLTD (Network of Digital Library for Theses and Dissertation)

  • PLN (Penang Library Network) Malaysia

11. Kondisi


Pembicaraan mengenai konsorsium ini baru relevan jika kondisi dibawah sudah terpenuhi:


  • Program-program IndonesiaDLN sudah mulai berorientasi kepada user dan sudah mulai dijalankan;

  • Keberadaan IndonesiaDLN sudah mulai dibutuhkan;

  • IndonesiaDLN telah memberikan kontribusi yang nyata bagi pengelolaan pengetahuan bangas Indonesia serta pemberian layanan kepada masyrakat.

  • Interaksi antar Partner dalam mengelola pengetahuan dan memberi layanan sudah berjalan dengan baik dan memberi manfaat yang terasa baik bagi mereka maupun bagi masyarakt.

Selama kondisi di atas belum terpenuhi, maka pembicaraan mengenai konsorsium kurang tepat waktunya. Hal ini disebabkan, akan menambah beban IndonesiaDLN dalam awal-awal langkahnya, serta menciptakan suasana yang kurang kondusif untuk memfokuskan diri pada program, aktifitas, dan kontribusi.


Namun jika kondisi di atas sudah terpenuhi, pembicaraan mengenai konsorisum ini dirasa perlu. IndonesiaDLN tidak cukup hanya sebagai forum, tetapi menjadi konsorsium mungkin bisa memberi kontribusi yang lebih besar.




Yüklə 122,94 Kb.

Dostları ilə paylaş:




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©www.genderi.org 2023
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə